Rabu, 22 Agustus 2012

Ketika Bukan KehendakMu yang Jadi


Seperti anak-anak muda seumurannya, Sarai pun memiliki kerinduan untuk mendapatkan pacar. Sambil melirik-lirik teman sekampusnya, tak lupa Sarai selalu berdoa “Tuhan, berikan aku seorang pacar yang takut akan Engkau, penuh pengertian, lembut hati, bijaksana dan setia. Terserah siapa yang Engkau pilihkan, aku akan menerimanya sebagai pemberianMu”
Ketika Sarai merayakan Natal di kampungnya, Sarai kembali bertemu dengan
Gita sahabatnya sewaktu kecil dulu. Sarai sebenarnya tahu bahwa sejak kelas 5 SD Gita naksir dirinya. Saat  mereka duduk di bangku SMP, Gita selalu mencari-cari alasan supaya bisa mondar-mandir lewat di depan rumah Sarai. Sarai pun sengaja keluar masuk rumah supaya bisa bertemu Gita. Rupanya mereka terlibat cinta monyet. Saat mereka duduk di bangku SMA, mereka tetap menyimpan rasa cinta di dalam hati masing-masing. Sarai tidak pernah berani menatap mata Gita, karena malu kalau terbaca seberapa besar cintanya kepada Gita. Gita pun demikian. Walaupun hati mereka dekat dan saling menyayangi, tetapi mereka tidak pernah berani menyatakan kata cinta. Gita, sebagai anak kampung dari strata sosial jauh di bawah keluarga Sarai, tentu saja tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta kepada Sarai. Jadilah hati
mereka saling berpacaran, tanpa kata, tanpa sentuhan, tanpa pelukan dan juga tanpa kencan.
Saat mereka bertemu lagi dalam acara Natal itu, Gita memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Sarai. Walaupun sebenarnya Sarai masih menyimpan cintanya untuk Gita, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk menerima cinta Gita. Sarai yang berasal dari keluarga terpandang, tidak berani mengambil resiko untuk menjadi kekasih Gita, kaum jelata dari kelas “sudra”. Sarai juga kuatir Gita yang hanya berpendidikan diploma, tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman kuliah Sarai di kampus yang cukup bergengsi itu. Saat itu Sarai pun berdoa “Tuhan, sebenarnya saya mencintai Gita, tapi saya malu karena status sosial Gita. Berikan saya pacar yang sebaik Gita, tetapi tidak culun, udik dan berpendidikan minimal S-1!”
Ketika Sarai aktif dalam pelayanan gereja, ia berteman akrab dengan Ito, seorang mahasiswa Theologia, teman sekampusnya. Persahabatan itu mendatangkan suka cita di antara mereka berdua dan bagi teman-teman di sekitarnya. Kematangan Ito dan kesediaannya mendengar keluh kesah Sarai, membuat ia layak menjadi kakak sekaligus penolong bagi Sarai. Saat Ito
hendak mengubah kedekatan itu menjadi hubungan percintaan, Sarai menolak, karena menurutnya Ito bukanlah tipe laki-laki yang didambakannya.  Walaupun sejujurnya Ito memenuhi kriteria laki-laki yang sering disebut dalam doa-doanya, namun mata Sarai lebih menguasai hatinya. “Tuhan, berikanlah sahabatku Ito seorang pacar, tetapi jangan
saya. Saya tahu dia baik dan penyayang, tapi dia tidak rapi, tidak tampan dan mulutnya terlalu lebar. Tolong berikan saya pacar, tapi jangan yang sejelek Ito”
Walaupun Ito dan Sarai masih bersahabat, tetapi mereka tak seakrab yang dulu. Ito yang telah memasuki smester-smester akhir harus mempersiapkan diri untuk praktek penggembalaan di luar kota. Sarai pun makin sibuk dengan kegiatan kampusnya. Mereka semakin jauh, jauh, dan lama kelamaan nama Ito terhapus dari kehidupan Sarai.
Suatu ketika Sarai ditunjuk mewakili kampusnya untuk mengikuti seminar antar kampus di tingkat regional untuk beberapa hari. Saat bertemu dengan Arjuna, mahasiswa tertampan dari kampus lain, Sarai langsung berdoa dalam hati “Tuhan, sungguh indah ciptaanMu! Engkau yang Maha Murah, berikanlah Arjuna menjadi pacarku”. Si tampan Arjuna yang berpenampilan calm dan cool itu membuat Sarai semakin penasaran. Walaupun Sarai berpura-pura cuek, tapi hatinya terus menerus berdoa, memaksa Tuhan untuk menggerakkan hati Arjuna supaya mau menghampirinya.
Entah karena doa-doa yang setengah memaksa Tuhan atau karena sikap Sarai yang jinak-jinak merpati, tahu-tahu Arjuna aktif melakukan PDKT. Usaha Arjuna terus dilanjutkan walaupun mereka telah kembali ke kota masing-masing. Singkat cerita mereka berpacaran jarak jauh dan hanya seminggu sekali mereka bertemu. Walaupun Arjuna mengakui secara jujur bahwa ia berasal dari keluarga miskin, Sarai nggak mau tahu. Rupanya Sarai sudah terjerat cinta sejak pandangan pertama! Sebulan dua bulan hubungan mereka lancar. Namun begitu masuk bulan keenam komunikasi mereka agak tersendat. Arjuna yang dulu rajin mengunjungi kost Sarai setiap akhir pekan, tiba-tiba minta dimengerti karena tidak bisa berkunjung terlalu sering. Untuk membuktikan bahwa Arjuna tidak pindah ke lain hati, ia pun mempersilakan Sarai untuk datang sewaktu-waktu ke pondokannya.
Saat Sarai ingin membuktikan kebenaran kata-kata Arjuna, ia pun berkunjung ke tempat kost Arjuna. Sarai hampir pinsan ketika melihat kenyataan bahwa Arjuna tak semiskin yang ia bayangkan. Dari mulut Arjuna, Sarai sudah bisa membayangkan bahwa Arjuna memang bukan anak dari keluarga berada. Namun keadaan yang didapati Sarai benar-benar membuatnya shock. Ternyata Arjuna hanya menempati kamar ukuran 2X3 meter yang berdinding bambu dan berlantai tanah. Sarai pun mundur teratur sambil berdoa “Tuhan, bukan yang ini yang saya minta! Saya ingin pacar yang setampan dan sebaik Arjuna tetapi jangan yang terlalu miskin. Bolehlah Engkau kasih saya pacar yang sederhana, tetapi jangan yang sekere ini”
Lama sekali Sarai tidak menemukan kekasih hati. Ia pun masih terus berdoa supaya Tuhan memberikan teman laki-laki yang sesuai dengan kriterianya. Namun ketika bertemu dengan Suromenggolo, laki-laki tampan, gagah dan berpenampilan sempurna itu, Sarai menjadi lupa dengan doa-doanya. Ia merasa yakin suatu saat laki-laki itun akan menjadi miliknya.
Suromenggolo yang duduk sebagai ketua panitia kegiatan cinta alam, mulai melirik-lirik Sarai yang terlibat sebagai peserta. Setiap adakesempatan, Sarai pun mencuri-curi pandang supaya bisa menikmati ketampanan Suromenggolo. Suromenggolo yang berwajah oval dan dihiasi kumis tipis dan sepasang mata bersinar di bawah alis yang indah, benar-benar membuat tercengang setiap perempuan yang melihatnya. Kulitnya yang hitam manis, sangat serasi dengan senyumnya yang manis dan menggetarkan hati setiap perempuan.
Ketika Sarai mengalami kesulitan untuk mendirikan tendanya, Suromenggolo menghampiri nya dengan senyum yang sungguh menawan. Sapaan nan lembut dan santun Suromenggolo membuat Sarai bagaikan Dewi di kayangan. Dengan sopan Suromenggolo menyodorkan tangan untuk berkenalan, membuat Sarai yakin bahwa laki-laki tampan di hadapannya berasal dari keluarga yang beradab. Beberapa hari berpetualang di alam bersama, membuat Sarai dan
Suromenggolo semakin akrab. Setiap Sarai mengalami kesulitan, Suromenggolo datang membantu tanpa diminta. Setiap menjelang magrib, saat Sarai dan teman-teman perempuannya pergi untuk mandi di kali, tanpa diminta Suromenggolo pun bersedia mengawal bak pahlawan yang selalu siap menjaga kehormatan teman-teman perempuannya. Sikap Suromenggolo yang “care” dan penuh perhatian, membuat  Sarai yakin bahwa Suromenggolo adalah laki-laki ideal yang diinginkannya.
Ketika petualangan di alam bebas itu diakhiri dengan mendaki gunung, Suromenggolo menggunakan kesempatan untuk merebut simpati Sarai. Selama perjalanan, Suromenggolo menunjukkan perhatian yang sangat besar dan kesediaan menolong setiap anak buahnya. Sikap Suromenggolo yang melindungi, benar-benar membuat setiap orang yang berada di dekatnya merasa aman. Kata-kata Suromenggolo yang lembut, santun dan bijaksana sungguh menyejukkan hati Sarai. Terlebih dengan sikap dan perhatian khusus yang penuh cinta, yang selalu diarahkan Suromenggolo kepada Sarai.
Sarai benar-benar tersanjung melihat Suromenggolo yang begitu memperhatikan dan mengkuatirkannya. Melalui tatapan mata dan bahasa tubuhnya, Suromenggolo mengisyaratkan bahwa ia tak ingin Sarai merasakan kesusahan. Suromenggolo seolah tahu kapan keringat Sarai hendak menetes dan kapan ia harus mengeluarkan sapu tanganya untuk membersihkan kening Sarai. Ketika Sarai tergelincir, tangan Suromenggolo meraihnya dengan cepat, sehingga Saraipun aman bersamanya. Suromenggolo rela menggendong dua ransel, supaya pundak Sarai tidak terkelupas oleh beratnya beban. Begitu cuaca mulai berkabut, Suromenggolo melepas jaketnya untuk dipakaikan ke tubuh Sarai. Ketika kaki Sarai terkelupas oleh jauhnya perjalanan, Suromenggolo tidak mempercayakan perawatan luka di kaki Sarai kepada petugas P3K. Dengan tangannya sendiri, Suromenggolo mencuci dan mengobati kaki Sarai.
Selama perjalanan pulang ke kampus, Suromenggolo selalu menjagai Sarai. Walaupun Sarai masih bisa berjalan dengan baik, tetapi Suromenggolo selalu berusaha menjaganya. Tanpa diminta, Suromenggolo selalu menuntun Sarai ketika naik dan turun dari bis. Di dalam bis pun Suromenggolo selalu berusaha mencarikan minum dan makanan untuk Sarai. Setibanya di
kampus, sebenarnya Sarai bisa pulang sendiri ke kostnya. Tetapi Suromenggolo merasa bertanggung jawab untuk mengantar Sarai hingga di depan pintu kostnya.
Tidak berhenti di situ saja! Malam harinya Suromenggolo datang lagi ke tempat kost Sarai dengan membawa dua rantang makan malam dan obat kompres untuk kaki Sarai. Semula Sarai menolak pemberian itu, karena ia menyangka bahwa Suromenggolo adalah sesama anak kost yang uangnya mepet. Tetapi Suromenggolo berusaha meyakinkan bahwa makanan yang dibawanya adalah masakan ibunya yang memang disiapkan untuk Sarai.
Malam-malam berikutnya Suromenggolo selalu datang dengan setangkai bunga yang terselip di rantang catering ibunya. Teman-teman kost Sarai pun memuji perhatian dan kasih sayang Suromenggolo yang seakan tak pernah ada habisnya. Tidak berlebihan jika Sarai GR (gede rasa). Ia pun langsung berdoa “Tuhan, inilah orang yang kupilih. Berkatilah supaya dia menjadi
kekasihku selamanya”. Saat itu bagi Sarai, berdoa adalah nomor kesekian. Tuhan bukanlah tempat Sarai berkonsultasi karena Sarai bisa memilih sendiri laki-laki yang diinginkannya.  Setiap berdoa, Sarai hanya cukup melapor dan meminta dukungan Tuhan atas apa yang diinginkannya. Ketampanan, cinta dan romantisme Suromenggolo telah membuat Sarai menempatkan Tuhan hanya sebagai asisten yang selalu diminta membantu Sarai mencapai
keinginannya. Mungkin inilah yang dinamakan cinta buta. Api asmara yang berkobar di antara mereka, telah membuat Sarai tidak mampu melihat sisi lain kehidupan Suromenggolo.
Walaupun Sarai tahu bahwa Suromenggolo bukan anak Tuhan yang sepadan dengannya, namun Sarai ngotot dan merasa mampu memperkenalkan Juru Selamat kepada Suromenggolo. Terlebih lagi Suromenggolo sendiri sudah bersedia untuk beribadah di gereja Sarai. Inilah yang selalu dijadikan senjata pembela diri, ketika orang tua dan kakak Sarai tidak menyukai hubungan mereka. Walaupun kakak Sarai sudah memberitahukan berkali-kali tentang masa lalu Suromenggolo yang suka berkelahi dan mabuk-mabukan, tetapi perhatian dan kelembutan Suromenggolo telah memabukkan Sarai. Sarai merasa saat itu dia lah yang paling tahu siapa Suromenggolo yang sesungguhnya.
Walaupun induk semang Sarai berkali-kali memberitahu bahwa Suromenggolo adalah anak kolong yang keluargnya amburadul, Sarai tetap dengan keyakinannya bahwa laki-laki yang dikenalnya adalah sosok yang penuh cinta dan kasih sayang. Ketampanan, romantisme dan sikap santun Suromenggolo sama sekali bertolak belakang dengan  pernyataan induk semang Sarai.
Ketika berkenalan lebih dekat dengan keluarga Suromenggolo, Sarai dihadapkan kenyataan bahwa Suromenggolo memang bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Kenyataan bahwa ayah Suromenggolo sering melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya, justru didengar Sarai dari mulut ibu Suromenggolo. Dengan berlinang air mata ibu Suromenggolo menceritakan penderitaan dirinya yang sering diperlakukan kasar dan ditinggal kabur ayahnya. Penderitaan ibu Suromenggolo semakin lengkap ketika ia tidak memiliki daya untuk melindungi anak-anaknya dari siksaan suaminya. Kisah mengharukan itu semakin diperkuat dengan cerita Suromenggolo yang mengaku bahwa siksaan dari ayahnya merupakan makanan sehari-hari untuknya.
Pengenalan Sarai terhadap keluarga Suromenggolo tidak menyurutkan cintanya. Sebaliknya, Sarai semakin mengagumi Suromenggolo. Di mata Sarai, Suromenggolo adalah pribadi yang tegar. Walaupun tidak pernah menerima kasih sayang dari ayahnya, namun ia memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar untuk orang lain, terutama untuk Sarai. Sarai semakin kagum karena Suromenggolo yang sedari kecilnya terbiasa menerima siksaan, tetapi setelah dewasa bisa tampil sebagai sosok pelindung yang penuh kasih.
Bukan hanya Sarai yang membutuhkan Suromenggolo. Kehadiran Sarai pun semakin mengobarkan semangat hidup Suromenggolo. Sarai adalah satu-satunya orang yang mengerti penderitaan Suromenggolo. Ibu Suromenggolo yang harus berjuang keras menghidupi anak-anaknya, telah membuat Suromenggolo tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup. Menurut Suromenggolo, setelah masa remajanya terbuang sia-sia dalam kehidupan yang penuh nikotin, alkohol dan perkelahian, ibunya baru datang menghampirinya. Saat Suromenggolo menjelang dewasa, ibunya berusaha menebus kesalahannya dengan memberikan kasih sayang yang berlebih.
Walaupun ibunya telah memberikan kemanjaan yang berlebih, Suromenggolo tetap membutuhkan kasih lembut Sarai. Walaupun kecantikan Sarai tak sebanding dengan ketampanannya, Suromenggolo tetap membutuhkan Sarai sebagai calon pendamping, sekaligus sebagai “ibu”. Tanpa pikir panjang lagi, setelah 2 tahun berpacaran mereka  memutuskan untuk menikah, setelah Suromenggolo bersedia dibaptis di gereja Sarai. Ketika itu Sarai menodong Tuhan untuk mencari pembenaran atas keputusannya “Tuhan, inilah orang yang Kaupilih untuk mendampingiku. Walaupun banyak muridMu tidak sepenuhnya mendukung
hubungan kami, namun untuk kali ini, biarlah aku mewujudkan keinginanku. Untuk lain kali, bolehlah kehendakMu yang jadi. Namun untuk kali ini saja, biarlah kehendakku yang jadi”
Walaupun secara materi mereka berdua tidak memiliki kesiapan sama sekali, mereka nekad membina rumah tangga hanya dengan bermodal cinta. Layaknya syair yang dilantunkan oleh pedangdut, mereka rela hidup menderita, tidur hanya beralas koran dan makan sepiring berdua. Sarai yang sudah bekerja harus menopang bahtera yang dikemudikan oleh Suromenggolo. Sarai yang bekerja di dua tempat hingga larut malam, tidak membuat Suromenggolo lelah menunggunya di rumah. Suromenggolo justru senang kalau ia bisa memasak makan malam untuk mereka berdua. Tahun pertama perkawinan mereka benar-benar penuh dengan kemesraan. Mereka tidak peduli apa kata orang. Mereka juga tak peduli kalaupun dunia ini
akan runtuh, asalkan mereka selalu berdua. Kebahagian mereka semakin bertambah saat Suromenggolo mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus dengan gaji yang lumayan.
Memasuki tahun kedua, Sarai dan Suromenggolo sepakat untuk melewatkan libur Natal di rumah keluarga Suromenggolo. Saat malam Natal tiba, Sarai mulai kecewa karena Suromenggolo dan ibunya menghalanginya untuk pergi ke gereja. Suromenggolo menenangkan Sarai dengan menjanjikan untuk mengantarnya ke gereja esok paginya. Mereka berdua sepakat untuk pergi ke gereja pada jam 05.00.
Di pagi yang buta Sarai menggandeng tangan Suromenggolo untuk pergi ke gereja. Belum sempat pasangan muda itu melangkah keluar pintu, ibu Suromenggolo menggagalkan rencana mereka. Suromenggolo meminta pengertian Sarai untuk menggeser rencana mereka sampai jam 07.00. Sarai pun setuju. Namun begitu waktu ibadah yang kedua sudah hampir tiba, Suromenggolo masih sibuk menemani ibunya. Sarai kembali bersabar, menunggu Suromenggolo menyediakan waktu untuk istri dan Tuhannya pada jam 09.00.
Lagi-lagi gagal! Suromenggolo mencoba menggeser rencana mereka sampai jam 11.00. Namun, gagal lagi gagal lagi! Hari itu tampaknya Suromenggolo benar-benaar milik ibunya. Kesabaran Sarai sudah sirna. Ketika hari telah bergeser  hingga jam 17.00, dan ibu Suromenggolo belum ingin melepaskan anaknya menikmati kebersamaan dengan istrinya, Saraipun mengambil sikap. Tanpa ijin suami dan mertuanya, Sarai nekad pergi ke gereja sendiri. Walaupun berbakti dan memuji Tuhan adalah hak Sarai yang paling azazi, namun
Suromenggolo dan ibunya menganggap hal tersebut merupakan pelecehan terhadap kekuasaan sang suami. Hari itu Sarai divonis bersalah karena berani meninggalkan rumah tanpa restu suaminya. Sarai yang berasal dari keluarga yang taat beribadah, tentu saja sangat kecewa melihat suaminya menerima Kristus hanya di bibirnya saja. nilah sumber konflik yang pertama.
Mulai saat itu, Suromenggolo semakin mengatur dan menuntut sarai untuk berperan sebagai mana ibunya. Sarai yang bekerja di kantor tentunya tidak sanggup menerima beban ganda yang ditimpakan oleh suaminya. Masakan Sarai yang tidak lezat dan  dandanan yang tak seluwes ibu mertuanya, seringkali dipakai Suromenggolo untuk melecehkan Sarai. Sarai baru menyadari bahwa ia sedang hidup bersama dengan penderita oidepus complex. Sarai tidak menyerah. Ia justru ingin belajar dari ibu mertuanya yang merupakan figur ibu rumah tangga yang nrimo, mengabdi dan menerima apa saja perlakukan suaminya. Namun sayang, belum selesai berguru kepada mertuanya, Sarai hamil. Sejak saat itu Sarai lebih berkonsentrasi pada buah hati yang ada di dalam perutnya. Perhatian sarai yang terbagi untuk memikirkan kesehatan diri dan janinnya, membuat Suromenggolo merasa perhatian dan kasih sayang Sarai
tak cukup lagi buatnya.
Suromenggolo mulai mencari perhatian dari teman-teman sekantornya. Ia rela melakukan apa saja supaya bisa diterima dan dikagumi teman-temannya. Seringkali Suromenggolo tidak membawa pulang uang gajinya demi menyenangkan teman-temannya. Panggilan “Bos” dari rekan-rekannya membuat Suromenggolo merasa tidak cukup hanya dengan bermodalkan uang gajinya. Tak jarang ia menggunakan uang istrinya hanya untuk berfoya-foya dengan
teman-temanya. Merasa uangnya kurang, Suromenggolo mulai berkhayal menjadi orang kaya
melalui perjudian. Saat Suromenggolo kalah berjudi, ia meyakinkan Sarai bahwa lain kali ia akan meraup keuntungan dari permainan judinya. Ketika Suromenggolo mendapatkan kemenangan yang kecil, ia semakin bersemangat untuk meyakinkan Sarai bahwa di waktu-waktu mendatang ia akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan lebih besar lagi. Keuangan mereka semakin kacau. Baik kekalahan maupun kemenangan, bagi Suromenggolo harus dirayakan dengan alkohol. Bau alkohol dari mulut Suromenggolo membuat Sarai tidak bisa melayaninya di tempat tidur. Namun penolakan Sarai tidak membuat Suromenggolo mundur. Sebaliknya, Suromenggolo menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Semakin dilecehkan dan diperlakukan secara tidak bermartabat, Sarai semakin frigit. Inilah neraka bagi Sarai. Semakin ia frigit, Suromenggolo semakin bersemangat untuk “memperkosanya”.
Walaupun anak mereka telah lahir, Suromenggolo tidak berubah. Mau tidak mau, Sarai bersikap lebih tegas lagi. Ia berusaha mengendalikan uang gajinya sendiri supaya bahtera keluarganya tidak tenggelam. Paling tidak Sarai merasa bertanggung jawab untuk menghidupi anaknya. Kesenangan Suromenggolo bersama teman-temannya, membuat Sarai seolah janda beranak satu, yang harus berjuang sendiri menghidupi anaknya. Buah hati mereka yang sakit-sakitan seolah bukan masalah Suromenggolo. Semua ditimpakan kepada Sarai.
Kesulitan hidup yang dihadapi Sarai membuat ia seolah mati rasa. Ketidakhadiran Suromenggolo di saat anaknya perlu dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi, sudah dianggap hal yang biasa. Sarai tidak punya waktu lagi untuk mengemis cinta dan belas kasihan dari suaminya. Ia merasa harus bisa hidup dan membagi cinta bersama anaknya. Merasa
kehadirannya tak berpengaruh dalam kehidupan istri dan anaknya, Suromenggolo mulai mencari pengakuan, baik di dalam maupun di luar rumah. Sejak saat itu, Suromenggolo bukan saja menuntut Sarai menjadi sama dengan ibunya, tetapi ia sendiri menghadirkan potret ayahnya. Kesalahan-kesahalan kecil yang dilakukan Sarai bisa membuat ia murka. Cerita tokoh Suromenggolo yang penuh cinta, kasih sayang dan romantisme sudah berakhir. Ia hadir layaknya “warok suromenggolo” yang menakutkan. Ia telah berubah wujud menjadi monster yang tertawa puas ketika melihat Sarai dengan kening terluka, bibir dan hidung yang berlumuran darah, mata yang membengkak atau yang merangkak kesakitan sambil berlutut atau mencium telapak kaki sambil memohon belas kasihan dari Suromenggolo
Suromenggolo menerima Tuhan Yesus hanya karena cintanya kepada Sarai, bukan karena ia mencintai Juru Selamat. Suromenggolo menjadikan Kristen hanya sebagai identitas, dan bukan karena ia ingin hidup meneladani Kristus. Ia menjadi Kristen, bukan karena dia “ngefans” dengan pribadi Kristus, tetapi karena ia “ngebet” untuk mendapatkan cinta Sarai. Ketika cinta itu redup, Suromenggolo pun rela meninggalkan Kristus. Ia rela menukar Janji Keselamatan dengan perempuan lain yang lebih cantik, sexy, menggairahkan dan bersedia diperlakukan sebagai “ibunya”.
******
Kisah nyata di atas terjadi karena Sarai tidak mengandalkan Yesus. Ketika ia kepincut dengan ketampanan dan terbius oleh cinta seorang laki-laki, ia menomor duakan Tuhan Yesus. Karena merasa yakin bahwa pilihannya bisa memuaskan matanya, ia pun berdoa “Biarlah kehendakku saja yang terjadi, bukan kehendakMu”. Kesalahan yang terbesar dalam hidup Sarai adalah tidak mengandalkan campur tangan Tuhan ketika mengambil keputusan. Bahkan orang-orang di sekitar Sarai yang dipakai oleh Tuhan untuk mengingatkannya, dianggap angin lalu saja. Walaupun banyak orang bilang bahwa Tuhan akan menyediakan “Abraham” yang lebih baik bagi Sarai, tetapi ia telah dibutakan oleh ketampanan dan romantisme dari laki-laki yang tak sepadan di hadapan Allah.

Diceritakan kembali oleh Lesminingtyas.

Cari artikel Blog Ini

copy right