Kamis, 03 Oktober 2013

ADA Baliho Larangan Ngangkang Yang Kontroversial "AJARAN ISLAM MERUPAKAN AJARAN SETAN YANG TAK MASUK AKAL"

 Di bawah tulisan tersebut ada gambar dua pengendara sepeda motor, keduanya membonceng perempuan. Yang satu membonceng perempuan memakai celana ketat dan duduk mengangkang. Pengendara dan yang dibonceng menggunakan helm. Pada gambar ini tertulis, “SALAH” lengkap dengan tanda X warna merah. Satu lagi, membonceng perempuan memakai
busana menutup aurat dan duduk menyamping. Pengendara menggunakan helm, tapi yang dibonceng tanpa helm. Pada gambar ini tertulis, “BENAR” warna hijau

.
LHOKSEUMAWE – Di Simpang Kutablang, Lhokseumawe, tepatnya pada lokasi tugu “Selamat Datang di Kota Lhokseumawe”, terpampang sebuah baliho tentang larangan perempuan duduk mengangkang dibonceng sepeda motor. Baliho tersebut mengundang kontroversi, mengapa?
Pantauan ATJEHPOSTcom, Sabtu, 12 Januari 2013, dalam baliho itu tertulis, “ALLAH SANGAT MENCINTAI KEPADA HAMBANYA YANG TA’AT DAN PATUH TERHADAP SYARIAT/PERINTAHNYA”.

Di bawah tulisan tersebut ada gambar dua pengendara sepeda motor, keduanya membonceng perempuan. Yang satu membonceng perempuan memakai celana ketat dan duduk mengangkang. Pengendara dan yang dibonceng menggunakan helm. Pada gambar ini tertulis, “SALAH” lengkap dengan tanda X warna merah.
Satu lagi, membonceng perempuan memakai busana menutup aurat dan duduk menyamping. Pengendara menggunakan helm, tapi yang dibonceng tanpa helm. Pada gambar ini tertulis, “BENAR” warna hijau.
Sejumlah warga Lhokseumawe menilai pemilik baliho tersebut telah salah memaknai peraturan berlalu lintas, walau pesan yang ingin disampaikan adalah larangan duduk mengangkang bagi perempuan. “Masak pengendara dan orang yang dibonceng sama-sama memakai helm diberi tanda silang (X) atau salah. Secara aturan lalu lintas justru itu yang benar,” kata Anwar, warga Desa Simpang Empat, Banda Sakti, Lhokseumawe.  
“Sedangkan yang dibonceng tidak memakai helm malah diberi tanda conteng atau benar. Aneh-aneh saja cara pihak tertentu dalam mendukung seruan wali kota Lhokseumawe soal larangan ngangkang. Mestinya kalau mau mendukung, buatlah baliho yang benar,” kata Anwar yang juga mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di Lhokseumawe. Pendapat yang sama disampaikan sejumlah warga lainnya.
Sejauh ini belum diketahui siapa pemilik baliho tersebut, sebab tidak dicantumkan lembaga atau atas nama pihak tertentu. Kepala Bagian Humas Setdako Lhoskeumawe Munadi beberapa kali dihubungi, telpon selularnya tidak aktif.

Cari artikel Blog Ini

copy right