Selasa, 31 Desember 2013

Pacar Muslim Yang Suka Menyiksa


Seluruh dunia Islam bersifat narsisistik. Mereka semua merefleksikan gangguan mental yang dialami nabi mereka. Orang yang narsisistik suka menyiksa. Mereka
menderita masalah rendah diri. Mereka menghina orang-orang yang terdekat dengan mereka yang paling mereka kasihi. Mereka merendahkan orang lain agar mereka merasa nyaman dengan diri sendiri.
Diposkan oleh Ali Sina pada 25 Juli 2012
 Halo Bapak Sina ,
Saya tahu saya kedengaran seperti banyak
wanita Kristen lainnya yang menjalin hubungan dengan pria Muslim. Kami semua tahu apa yang baik bagi kami dan kami masih berharap hubungan kami dapat berhasil.
Saya berpacaran dengan seorang pria Muslim sejak 9 tahun lalu. Kami tinggal di Kanada dan ia tidak menjalankan agamanya dengan sungguh-sungguh, kecuali Ramadan, dan itupun baru beberapa tahun belakangan ini. Kami suka minum bersama, senang-senang bersama. Banyak orang menyukainya karena ia sangat baik kepada semua orang, suka bergaul dan selalu sopan. Tetapi ia sangat mengendalikan saya. Selama saya tidak menentangnya dan tersenyum, berbicara dengan nada yang rendah, ia bersikap sangat baik. Tetapi demi Tuhan, saya tidak boleh mengemukakan pendapat saya terutama di depan orang lain karena ia akan mulai menghina saya dan benar-benar merasa hebat dengan dunianya. Beberapa teman Muslim kami sangat serius mempelajari Islam, dan ia berusaha terlihat baik di mata mereka, tidak minum alkohol, tidak merokok. Tahun ini (Ramadan) kami kedatangan tamu untuk iftar, dan saya membantu memasak sepanjang hari. Beberapa saat sebelum para tamu datang saya ingin beristirahat dan minum segelas anggur dan bersantai. Teman pria saya membesar-besarkan hal itu dan mengatakan kepada sayabahwa saya telah bersikap tidak hormat kepada teman-temannya pada bulan Ramadan, dan semestinya saya tidak minum alkohol. Tetapi ini juga rumah saya dan saya menyambut mereka dengan menyediakan makanan di meja, saya membereskan rumah agar terlihat rapi, agar mereka merasa nyaman. Menurut saya, merekapun harus menghargai saya juga. Saya berusaha menjelaskan hal ini padanya tetapi ia menjadi sangat marah, berteriak-teriak dan memecahkan barang-barang di rumah. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Bersediakah anda mengatakan pada saya apa pendapat anda? Mengapa mereka sangat munafik dan jika ia mengklaim bahwa ia adalah orang yang modern, suka jalan-jalan, pergi ke pesta, minum, tapi saat Ramadan ia berubah dan kepada saya ia berusaha agar selalu benar, dan ketika berdebat ia tidak pernah mau mendengarkan argumen saya. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bodoh, tidak cerdas dan tidak sopan. Saya sama sekali tidak seperti itu dan semua orang mengetahuinya. Tetapi baginya, di matanya, saya bahkan sama sekali tidak mampu menjelaskan argumen-argumen saya – ia menolak mendengar apa yang saya rasakan dan pikirkan.
Terimakasih sebelumnya
Kay (bukan nama sebenarnya)

Kay yang baik,
Saya takut saya akan menghancurkan harapanmu. Hubungan ini tidak akan berhasil. Pacar anda adalah seorang pria Muslim. Tidak peduli betapapun menariknya ia, ada dua hal negatif tentang dirinya, yaitu: keyakinannya dan bagaimana ia dibesarkan. Apabila pacar anda menderita AIDS, maka sebaiknya anda tidak tidur dengannya. Boleh jadi ia adalah orang yang sangat menarik, tetapi bukankah itu membuatnya jadi berbeda? Islam lebih buruk daripada AIDS. Tidak ada pernikahan campuran dengan Muslim yang mengalami kebahagiaan. Seandainya pun ada, itu karena si pasangan Muslim hanyalah orang Muslim KTP.
Teman pria anda percaya kepada agama yang membenci wanita, yang memandang wanita itu makhluk yang rendah, kurang cerdas, dan secara alamiah sifatnya suka menipu dan mudah berdosa. Itu baru satu masalah. Masalah lainnya adalah ia telah dibesarkan dalam masyarakat islami. Kebencian terhadap wanita menjadi sifatnya yang kedua. Ayahnya merendahkan dan menghina ibunya. Para pamannya menghina dan merendahkan istri-istri mereka. Para tetangganya, teman-temannya, dan seluruh masyarakat Islam melakukan hal yang sama. Kaum wanita dalam masyarakat Islam menerima bahwa mereka harus tunduk kepada pria dan mengakui bahwa mereka lebih rendah daripada pria. Semua orang dikondisikan untuk berpikir seperti itu. Nampaknya itu normal bagi mereka karena semua orang meyakini hal itu dan mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang islami lebih baik daripada segala sesuatu yang datang dari dunia kafir.
Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam kebudayaan Barat dimana kesetaraan pria dan wanita diterima sebagai sebuah fakta, anda tidak akan merasa nyaman dengan seorang pria Muslim yang membenci wanita. Kecuali anda setuju untuk membuang individualitas dan kebebasan anda, serta mau dihina dan disiksa, maka saya menyarankan sebaiknya anda keluar dari hubungan tersebut. Banyak wanita Barat yang menikahi pria Muslim membuang semua hal itu. Semuanya terjadi secara bertahap sehingga mereka tidak menyadarinya dan tidak merasa terpaksa. Saya tidak percaya jika ada wanita yang setuju untuk mengenakan hijab dan masih mempunyai harga diri. Wanita yang percaya bahwa lengannya, kakinya dan seluruh bagian tubuhnya adalah perpanjangan dari vaginanya dan organ-organ pribadinya, sehingga harus ditutupi, sama sekali sudah kehilangan harga dirinya dan tidak berhak menerima respek. Jika ia ingin memproyeksikan citra dirinya hanya sebagai vagina yang dapat berjalan dan berbicara, maka ia harus diperlakukan demikian.
Cinta tidak dapat berdiri sendiri tanpa respek. Seorang pria merasa tertarik pada seorang wanita, tetapi jika ia tidak tahu bagaimana menghormati pikiran, keputusan dan kemandirian wanita itu, maka ketertarikannya hanya berdasarkan pada kebutuhan dan bukan cinta. Jika anda mengancam akan meninggalkannya, maka ia akan menangis, tetapi itu bukan karena ia mencintai anda. Itu karena ia tidak tahu harus berbuat apa jika anda tidak di sisinya. Ia memerlukan anda untuk memenuhi kebutuhan emosinya.
Teman pria anda juga seorang yang kejam. Ia membanting barang-barang. Mengapa ia belum memukuli anda? Ia takut akan konsekuensi perbuatan itu. Kalian tinggal di negara Barat, dan ia takut kepada hukum, juga takut anda akan meninggalkannya. Oleh karena kalian hanya berpacaran dan tidak mempunyai anak, mudah bagi anda untuk meninggalkannya. Itu akan sangat sulit baginya. Tetapi jika kalian menikah dan mempunyai anak, kendalinya atas diri anda meningkat dan anda akan melihat satu sisi kepribadiannya yang belum pernah anda lihat selama ini.
Jika saya boleh menasehati anda, saya akan menganjurkan anda untuk merencanakan “pelarian” anda dengan seksama, keluar dari hubungan ini. Jangan mengatakan apapun padanya. Jika anda sudah yakin bahwa anda akan selamat, tinggalkanlah dia dan lakukanlah hal itu sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat mengancam anda. Ia tidaklah sebodoh itu, tetapi bukanlah sesuatu yang baru jika ada pria Muslim yang berlaku jahat terhadap wanita yang menolak mereka.
Seluruh dunia Islam bersifat narsisistik. Mereka semua merefleksikan gangguan mental yang dialami nabi mereka. Orang yang narsisistik suka menyiksa. Mereka menderita masalah rendah diri. Mereka menghina orang-orang yang terdekat dengan mereka yang paling mereka kasihi. Mereka merendahkan orang lain agar mereka merasa nyaman dengan diri sendiri. Mereka juga mempunyai standar ganda. Mereka terlibat dengan segala bentuk kejahatan dan ingin dipandang sebagai orang suci. Seperti itulah Muhammad. Mereka sangat peduli akan pencitraan diri mereka.
Dunia Islam didasari para rasa malu (aib) dan kehormatan. Ini adalah konsep-konsep narsisistik. Masyarakat etis mendasari nilai-nilai mereka pada rasa bersalah dan ketidakberdosaan. Dalam budaya-budaya yang didasari pada rasa bersalah dan ketidakberdosaan, kejahatan dihindari karena kejahatan menghancurkan ketidakberdosaan dan menimbulkan rasa bersalah. Agar mempunyai rasa bersalah, anda harus memiliki hati nurani.
Dalam masyarakat yang didasari pada rasa malu dan kehormatan, yang anda perhatikan adalah bagaimana orang lain menilai anda. Citra yang anda proyeksikan lebih penting daripada diri anda sendiri. Yang terpenting adalah orang lain menilai anda sebagai orang yang baik dan bermoral. Selama anda dapat menampilkan citra seperti itu, maka anda akan baik-baik saja sekalipun anda menjalani hidup yang bobrok. Singkatnya, dalam masyarakat yang berdasarkan pada rasa malu (aib), citra diri yang diproyeksikan seseoranglah yang menentukan tindakan-tindakannya, sedangkan dalam masyarakat yang berdasarkan pada rasa bersalah, maka hati nurani seseoranglah yang mengatur tingkah-lakunya.
Apabila dua orang yang berasal dari dua dunia yang berbeda ini menjadi satu pasangan, nilai-nilai mereka akan berbenturan. Orang yang berasal dari masyarakat yang berdasar budaya rasa bersalah dan ketidakberdosaan, akan menjadi pihak yang paling menderita, terutama jika orang itu adalah wanita dan mempunyai kelemahan fisik. Dalam konfrontasi keras antara pria dan wanita, seringkali wanita mendapatkan banyak pukulan. Sekalipun tidak ada kekerasan fisik, orang yang mempunyai hati nurani lebih menderita daripada orang yang tidak punya hati nurani.
Bagi anda, orang Muslim kelihatan seperti orang yang munafik. Anda benar. Tetapi menurut mereka, kemunafikan adalah gaya hidup. Selamanya mereka sudah seperti itu. Dalam benak sakit seorang Muslim, satu-satunya hal yang terpenting adalah bagaimana orang lain menilai dirinya. Manusia batinnya sebenarnya sangat busuk (maafkan bahasa Arab saya, tetapi selama orang lain berpikir dia adalah orang yang baik maka ia dapat menjalani hidup yang bahagia dan tidak diganggu hati nurani. Jika anda tidak punya hati nurani, bagaimana anda dapat merasakan kepedihan di dalamnya?
Orang yang narsisistik juga sangat gila balas dendam. Sudah lazim bagi pria Muslim menyakiti wanita yang diklaimnya sebagai kekasihnya, jika wanita itu menolaknya. Teman pria anda mungkin bukan orang yang kejam (saya tidak tahu mengapa ia membanting dan memecahkan barang-barang), tetapi ia adalah seorang Muslim. Saya menasehati anda agar lebih berhati-hati jika memutuskan hubungan dengan pria Muslim. Mereka sangat rapuh sehingga mereka tidak sanggup menerima penolakan. Ketika anda menolak orang yang narsisistik, anda memecahkan gelembung egonya (merasa diri penting), dan ia akan membalas dendam.
Oleh karena saya tidak mengetahui persis apa masalah anda, saya tidak dapat memberi anda saran apapun. Saya berbicara secara umum saja. Jika anda percaya bahwa ia orang baik dan dapat diubahkan (seringkali ini hanya mimpi indah), mungkin anda dapat berbicara padanya mengenai masalah ini. Masalahnya lebih dalam dari yang mau diakuinya. Boleh jadi ia akan meminta maaf karena telah bersikap kasar pada anda dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tetapi itu tidak memecahkan masalah. Ia tidak mengontrol tindakan-tindakannya. Ia adalah korban salah asuh dan agama yang salah. Jika ia tidak menyingkirkan kedua “monyet” ini, janji-janjinya hanyalah omong kosong.
Berbicaralah dengan jelas padanya. Katakan padanya anda telah tiba pada kesimpulan bahwa Islam adalah masalah dan alasan mengapa ia bersikap demikian selama ini. Jika ia mengakui hal itu dan meninggalkan Islam masalahnya belum terpecahkan, tapi setidaknya sudah tercipta kesadaran. Jika anda telah memahami permasalahannya, maka anda berada dalam situasi yang jauh lebih baik sehingga dapat menanganinya.
Berikan dia dua pilihan: pelajari Islam bersama-sama dan temukanlah kebenaran mengenai Islam atau … sayonara! Jika ia setuju untuk mempelajari Islam, saya sarankan agar andamembaca buku saya karena buku ini memberikan anda perspektif sehingga anda mampu memecahkan semua misterinya.
Wanita yang menderita dan menjalani hubungan yang penuh penyiksaan seringkali mengalami rendah diri. Orang yang tahu menghargai dirinya sendiri tidak akan berdiam dalam hubungan seperti itu. Mereka langsung dapat mengenali orang yang suka menyiksa dan akan meninggalkan orang itu. Seringkali mereka tidak menunggu sampai kencan pertama dengan orang seperti itu. Hubungan ini tidak sehat untuk anda. Hubungan ini menghancurkan harga diri anda dan merupakan induk dari semua hal yang tidak baik.



by order post:
&
stay on fb: "KESAKSIAN MUSLIM MURTAD" 

Cari artikel Blog Ini

copy right