Selasa, 11 Desember 2012

Kebencian dan Kekerasan Di Bulan Penyadaran Quran: “Janganlah Orang Beriman Mengambil Orang Kafir Sebagai Teman.”

Ayat-ayat tersebut juga memperingatkan orang-orang beriman untuk tidak menjadikan orang kafir menjadi teman (َأَوْلِيَا — adalah sebuah kata yang berarti lebih dari sekedar pertemanan biasa, tetapi sesuatu yang sama dengan persekutuan/aliansi), “kecuali orang-orang berimana itu merasa takut dengan mereka.” Inilah pondasi dari ide bahwa orang beriman diijinkan untuk menipu daya orang-orang kafir ketika mereka tengah berada dalam tekanan.
Entri hari ini untuk Kebencian dan Kekerasan dalam Bulan Penyadaran Quran, berisi seruan Allah yang memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak berteman dengan mereka yang bukan orang-orang Muslim, sebab orang-orang kafir adalah orang-orang yang “biadab” dan “kurang ajar”, yang telah membunuh nabi-nabi dan mengatakan kebohongan:
Agama yang benar di hadapan Allah adalah Islam. Mereka yang telah diberi Kitab ini dan masih berselisih paham setelah pengetahuan datang pada mereka, adalah orang-orang yang bersikap kurang ajar satu sama lain. Mereka adalah orang-orang tidak mau percaya kepada tanda-tanda dari Tuhan. Pada hari penghakiman Tuhan akan melenyapkan mereka.
20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
21. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.
22. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.
23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).
24. Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.
25. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).
26. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”
28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).
 (Qur’an 3:19-28)
“Agama yang benar di hadapan Allah adalah Islam (إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَم) dan Ahli Kitab menolaknya karena sikap mereka yang “kurang ajar satu sama lain”. Orang Yahudi dan Kristen, demikian dikatakan oleh komentator Quran, Maulana Bulandshahri, mengakui bahwa Muhammad adalah “nabi terakhir, tetapi natur mereka yang keras kepala mencegah mereka untuk menerimanya.”
Ayat-ayat tersebut juga memperingatkan orang-orang beriman untuk tidak menjadikan orang kafir menjadi teman (َأَوْلِيَا — adalah sebuah kata yang berarti lebih dari sekedar pertemanan biasa, tetapi kata yang mengandung pengertian “persekutuan”/”aliansi”), “kecuali orang-orang beriman itu merasa takut dengan mereka.” Inilah pondasi dari ide bahwa orang beriman diijinkan untuk menipu daya orang-orang kafir ketika mereka tengah berada dalam tekanan. Kata dalam bahasa Arab yang dipakai disini adalah tuqātan (تُقَاةً), verbal noun dari taqiyyatan – dimana kata taqiyya menjadi sebuah istilah yang sudah diketahui secara luas.
Komentator Quran, Ibn Kathir mengatakan bahwa frasa yang dipakai di sini “kecuali engkau merasa takut kepada mereka” berarti bahwa “orang-orang beriman yang di beberapa wilayah atau waktu merasa takut akan keselamatan mereka dari orang-orang kafir”, diperbolehkan untuk “menunjukkan persahabatan yang bersifat pura-pura pada orang-orang kafir, tetapi itu tidak boleh dilakukan secara batiniah. Sebagai contoh, Al-Bukhari mencatat bahwa Abu Ad-Darda mengatakan,”Kami tersenyum di hadapan beberapa orang, kendati hati kami mengutuki mereka.”
Al Bukhari mengatakan bahwa Al-Hasan berkata,”The Tuqyah [taqiyya] diijinkan hingga hari Kebangkitan.” Sementara banyak juru bicara Muslim hari ini mengatakan bahwa taqiyya merupakan doktrin kaum Syiah, dan bahwa kaum Sunni menolak doktrin ini. Tetapi sarjana Islam ternama Ignaz Goldziher mengatakan bahwa, meskipun taqiyya diformulasikan oleh kaum Syiah, tetapi “doktrin ini diterima sebagai doktrin yang sah oleh semua orang-orang Muslim dari berbagai kelompok, berdasarkan otoritas Quran 3:28.” Orang-orang Sunni dari kelompok Al Qaeda tetap mempraktikkannya hingga hari ini.
Diposkan oleh Robert pada tanggal 6 Desember 2012
Dipetik dari: Jihadwatch.org

Cari artikel Blog Ini

copy right