Selasa, 13 Mei 2014

Dokter MuslimMalaysia dukung Hukum Hudud

Presiden IMAM, Dr Abdul Rahim Mohamad mengatakan, “Pertimbangan Moral daripada hukuman hudud adalah untuk membuat para kriminal itu merasakan sakit yang luar biasa, ketakutan yang luar biasa, sehingga dengan demikian mereka akan bertobat dan tidak akan
berani mengulangi kejahatan yang sama. 

April 29, 2014

Disamping itu, eksekusi secara publik dibawah hudud akan menimbulkan ketakutan bagi orang lain sehingga mereka tidak akan berani melakukan kejahatan,” katanya.


PETALING JAYA: Asosiasi Medis Islam (The Islamic Medical Association of Malaysia (IMAM)) menyampaikan dukungannya terhadap
amputasi yang akan diberlakukan dibawah hukum syariah (hudud), tanpa pemberian anestetik yang dapat mengurangi sakit yang akan diderita oleh para kriminal. 
Presiden IMAM, Dr Abdul Rahim Mohamad mengatakan bahwa kesakitan yang akan dialami oleh para kriminal itu adalah sesuatu yang penting, sehingga mereka bertobat dan di masa yang akan datang tidak akan kembali mengulangi perbuatannya.
“Pertimbangan Moral daripada hukuman hudud adalah untuk membuat para kriminal itu merasakan sakit yang luar biasa, ketakutan yang luar biasa, sehinggadengan demikian mereka akan bertobat dan tidak akan berani mengulangi kejahatan yang sama.
“Disamping itu, eksekusi secara publik dibawah hudud akan menimbulkan ketakutan bagi orang lain sehingga mereka tidak akan berani melakukan kejahatan,” katanya.

Baru-baru ini, Menteri Besar Kelantan Ahmad Yakub mengumumkan bahwa ia akan mengajukan sebuah rancangan undang-undang kepada Parlemen pada bulan Juni ini, supaya hukuman hudud diimplementasikan di negara ini.
Jamil Khir Baharom, Menteri di kantor Departemen Perdana Menteri yang berwenang dalam bidang urusan Islam mengatakan bahwa pemerintah federal tidak akan menghalangi rancangan yang akan diajukan ini, berdasarkan pertimbangan iman.
Banyak orang Muslim yang berpendapat bahwa usaha menerapkan hukuman hudud ini akan menjamin kesetaraan di hadapan hukum.
Rahim juga mengatakan bahwa publik tak perlu merasa takut dengan hudud, karena beban untuk pembuktian di bawah hukum syariah adalah sangat tinggi.
“Proses pembuktian adalah sesuatu yang panjang dan sulit, demi meyakinkan bahwa keadilan benar-benar dijalankan,” kata Rahim.
Abdul Rahim mengatakan bahwa penolakan yang dilakukan oleh Asosiasi Medis Malaysia (MMA) hanyalah sebuah reaksi yang terlalu dibesar-besarkan.
“MMA mencoba untuk meniadakan kewenangan Kementrian Kesehatan ketika mereka mengatakan bahwa para dokter dan perawat berada dibawah kewenangan pemerintahan federal, dan karena itu tak perlu mendengarkan aturan yang dibuat oleh negara bagian.
Minggu lalu, presiden MMA Dr NKS Tharmaseelan mengatakan bahwa amputasi hudud bertentangan dengan etika medis.
Dua hari lalu, Menteri Kesehatan Dr S Subramaniam juga telah menyuarakan penolakannya terhadap amputasi hudud. Ia  mengatakan, staf medis tidak diijinkan untuk melakukan amputasi hudud.

Cari artikel Blog Ini

copy right